Select Menu
Select Menu

Favourite

Jawa Timur

Wisata

Culture

Transportasi Tradisional

Rumah Adat

Bali

Pantai

Seni Budaya

Kuliner



Kehidupan memang tak pernah bisa lepas dengan yang namanya intrik, bukan hanya di dunia politik saja namun hampir disetiap sendi kehidupan manusia intrik selalu ada. Entah itu dilingkungan tempat tinggal, lingkup kerja, dijalan, dan yang pasti dalam dunia perpolitikan. Hanya saja kadar intriknya berbeda namun sejatinya memiliki benang merah yang sama, nama, kekuasaan, dan uang, saya pikir tiga hal itulah yang melahirkan intrik dalam sendi kehidupan.

Dulu saya berpikir bahwa intrik itu hanya seputar dunia perpolitikan, namun ternyata dimana disitu terdapat interaksi sosial maka bisa dipastikan akan muncul intrik – intrik. Di lingkup tempat tinggal kita saja coba lihat, meski mungkin antar tetangga terkesan harmonis guyub rukun tapi bisa dipastikan satu sama lainnya sejujurnya tidak klop. Sehingga kemudian saling ngrumpi, ngrasani, dan yang lebih parah melakukan aksi pengucilan, lalu dijalan raya saat anda berkendara betapa antar pengguna jalan saling adu intrik untuk mendapatkan kenyamanan dan “kemenangan” dalam menggunakan jalan, pada akhirnya saling selib, main potong jalan, ngebut seenaknya sendiri dan lainya. Lalu dilingkup kerja, sejatinya intrik dan friksinya tidak kalah dengan dunia perpolitikan. Saling jegal, ada yang menjilat, dan masih banyak lagi yang toh pada akhirnya semua hanya karena ego dan kecenderungan individualis yang makin parah. Pada kesimpulannya lahirnya intrik itu hanya karena ingin mencapai sesuatu, entah itu kekuasaan, jabatan, pujian dan uang, dan semua itu karena dalam diri manusia ditanamkan nafsu yang tak terhingga.

Coba bayangkan, seandainya Tuhan menanamkan nafsu yang ada pada diri manusia sepertinya halnya DIA menanamkan nafsu pada hewan, mungkin intrik tak pernah terjadi dalam kehidupan. Sebagai contoh seekor kucing, paling banter nafsu yang tak terbatasi hanya sebatas birahi dan makan selebihnya si kucing tak lagi punya keinginan lain, sementara kita apapun tak pernah merasa terpuaskan. Padahal makin haus manusia akan segala nafsunya, maka makin terbentang jurang yang akan memerosokan kita pada ketidak martabatan. Saya jadi berpikir, jika demikian apakah sejatinya kita jauh tidak bermartabat dari seekor hewan ?, satu – satunya yang meninggikan derajat manusia adalah akal. Ada yang bilang salah, tidak hanya akal pikiran yang membuat manusia lebih bermartabat dari hewan tapi juga karena kita diberikan hati dan perasaan. Menurut saya pendapat itu tidak sepenuhnya benar, sebab hewan juga punya hati, punya naluri yang mungkin jauh lebih berperasaan dari kita.
Pada suatu ketika di suatu daerah yang tidak jelas tersiar kabar bahwa pemimpin mereka yang biasa
disebut paduka RT hendak menggelar hajatan. Putra mahkota paduka RT akan melangsungkan pernikahanya dengan seorang putri dari kerajaan kesamaran.

Sebagai seorang pemimpin yang termasyur minimal di wilayahnya sendiri, tentu Paduka RT ingin menggelar hajatan itu semeriah mungkin, pasti akan sangat malu jika pemimpin sebesar Paduka RT dalam menggelar pesta pernikahan putranya hanya biasa-biasa saja, "Gengsi Dong " seperti istilah yang pernah dipopulerkan Grup lawak Warkop DKI. Namun permasalahanya, sang Paduka RT ini dikenal sangat pelit meski sejatinya dia kaya raya, sehingga untuk menggelar pesta pernikahan putra mahkotanyapun ia harus berpikir berulang kali, itung-itungan untung rugi. Namun berkat kecerdasan atau mungkin lebih tepatnya kelicikan yang dimilikinya,muncullah ide yang sangat brilian, Atas nama kehormatan seorang pemimpin dan demi harkat martabat Paduka RT di hadapan besannya, maka setiap Rumah diminta dengan sukarela untuk bisa berkontribusi dengan minimal angka yang telah ditentukan demi tergelarnya hajatan yang spektakuler putra mahkota.

Singkat cerita, Paduka RT pun mengutus staf-staf kepercayaannya  untuk muter dari satu rumah ke rumah yang lain dalam rangka pengumpulan dana untuk hajatan putra mahkota. Rela tidak rela, suka tidak suka, mau tidak mau akhirnya setiap rumah tangga memberikan iurannya, daripada menjadi bulan-bulan pembullyan, dan terancam posisi jabatanya. Tidak cukup hanya menarik iuran dari bawahanya, sang Padukapun juga meminta berbagai fasilitas diskon sebesar mungkin atau syukur-syukur gratis total dari para pelaku usaha yang ada di wilayahnya, dari mulai kateringnya hingga hotel tempat dimana akan digelar pesta spektakuler sang putra mahkota.