Jawa Timur
Wisata
Culture
Transportasi Tradisional
Rumah Adat
Bali
Pantai
Seni Budaya
Kuliner
Beauty Pekalongan Raya - Kabupaten Pekalongan layak di sebut sebagai legenda batik nusantara ( The Legend Of Batik ) karena sejarah panjang batik khususnya di daerah pesisir utara banyak bersumber dari kota yang berjuluk kota santri ini. Dalam perjalanannya, batik melewati lima masa, dimana pada setiap masanya melahirkan corak atau motif-motif tersendiri dan kesemuannya berproses di wilayah Pekalongan seperti kedungwuni. Makanya tidaklah muluk-muluk jika kabupaten Pekalongan sebagai The Legend of Batik.
Berkaitan dengan label Legend of Batik, Bupati Pekalongan H Asip Kholbihi SH,MSi gencar melakukan promosi akan hal itu, seperti yang belum lama ini dilakukan dalam lawatannya ke Washington DC USA. Selain mempromokan Legend of Batik, Bupati juga mempromosikan potensi-potensi lain yang dimiliki kabupaten Pekalongan seperti ecotourim, unique culture dan lain sebagainya.
Terkait langkah yang dilakukan Bupati, Minister Conselor Media and Socio Cultural Affairs,Siuaji Raja, menyambut baik dan mengapresiasi serta mendukung langkah-langkah Kabupaten Pekalongan. Bahkan pihaknya siap membantu tindak lanjut maksud dan tujuan kunjungan ini.
Bupati juga melakukan diskusi dan wawancara khusus dengan Voice of America (VoA) yang dipandu langsung oleh Nadya Majid (putri Nurkholis Majid). Promosi dan diskusi ini disiarkan oleh VoA kepada Masyarakat Amerika. Bupati juga mendapat banyak masukan dari wartawan VoA yang lebih memahami karakter dan budaya masyarakat Amerika terkait dengan peluang pemasaran batik. ( BPR )
Kajen - Untuk kali keduanya, Kajen Beauty Carnival digelar pada Ahad (20/8) berlangsung meriah. Sebanyak 53 tim yang terdiri dari 32 tim dari SD, 7 tim dari SMP, 6 tim dari SMA/SMK, 8 peserta umum dan 19 tim perwakilan dari kecamatan menampilkan hasil kreasinya di depan Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi.
Tampak ribuan penonton antusias menyaksikan even yang menampilkan atau mengangkat kreativitas dan ide beragam sesuai potensi lokal yang dimiliki peserta dalam bentuk pagelaran fashion yang unik. Tak hanya batik namun juga ada kerajinan bambu, kulit ikan pari, karung goni dan lain-lain yang ikut ditampilkan atau menjadi material pagelaran.
“Jika Potensi itu direnda dan disatu padukan maka akan tercipta sebuah karya seni yang akan meningkatkan daya jual Kota Santri dan secara otomatis dapat menarik minat investor dan wisatawan untuk berkunjung,” demikian diungkapkan oleh Munafah Asip Kholbihi dalam sambutannya selaku Ketua Dekranasda Kab. Pekalongan pada pembukaan ‘Kajen Beauty Carnival’.
Meski panas terik, para peserta nampak tetap semangat berlenggak – lenggok di sepanjang Boulevard Rumah Dinas Bupati Pekalongan dengan mengenakan kreasi kostumnya yang dibuat menggunakan kain batik khas Pekalongan serta elemen khas Kab. Pekalongan lainnya.
Event yang digagas oleh Dekranasda Kab. Pekalongan dan Dinperindagkop UKM tersebut menurut Ny. Asip Kholbihi diharapkan menjadi ajang rutin tahunan untuk berkreativitas baik oleh sekolah, umum, maupun perwakilan dari wilayah yang ada di Kabupaten Pekalongan.
Sementara itu, Bupati Pekalongan dalam sambutannya mengucapkan terimakasih kepada pihak penyelenggara khususnya Dekranasda, dan apresiasi kepada para peserta. Menurut Asip ajang ini merupakan salah satu bagian dari upaya Kab. Pekalongan untuk meningkatkan sektor UMKM serta menaikkan pertumbuhan ekonomi, karena salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yaitu dengan menerapkan kreativitas dan inovasi seperti gelaran hari ini yaitu ‘Kajen Beauty Carnival’.
“Hari ini kita melakukan inovasi yang selanjutnya nanti akan kita garap secara serius potensi UMKM khususnya sektor batik dan industri kreatif lainnya,” Ungkap Asip.
Ditambahkan Asip, ke depan dirinya akan menerapkan aturan pemakaian batik motif khas masing – masing kecamatan untuk seragam PNS di tiap kecamatan sesuai dengan yang telah dipamerkan dalam ‘Kajen Beauty Carnival’, serta batik motif khas Kab. Pekalongan bagi seragam PNS Kab. Pekalongan.
Asip berharap ke depan Kajen Beauty Carnival dapat digelar dengan lebih baik lagi, dengan terus meningkatkan daya kreativitas kita. Diungkapkan Asip bahwa dirinya juga tengah menggagas pelaksanaan event ‘Jambore Batik Internasional’ pada peringatan Hari Batik untuk meneguhkan Kab. Pekalongan sebagai kabupaten legendanya batik nusantara.
Namun gagasan tersebut diakuinya masih dalam tahap mengukur kekuatan, dimana Kajen Beauty Carnival merupakan langkah awal, sampai suatu saat pada titik bahwa kita siap melaksanakan Jambore Batik Internasional. “Terimakasih kepada penyelenggara dan peserta yang semuanya bagus dan layak untuk diapresiasi, sampai jurinya bingung untuk menentukan siapa yang menjadi pemenangnya,” ungkap Asip.
Pada kesempatan tersebut, Bupati memberikan secara langsung piala dan uang pembinaan kepada para pemenang Kajen Beauty Carnival 2017 untuk kategori kecamatan yaitu Juara pertama, Kecamatan Kedungwuni, Juara kedua, Kecamatan Paninggaran, Juara ketiga, Kec. Wiradesa, Juara harapan satu Kecamatan Wonopringgo, Juara harapan dua Kecamatan Petungkriyono, serta Juara harapan tiga, Kecamatan Karanganyar.
Sedangkan para juara untuk kategori yang lain piala dan uang pembinaan akan diserahkan pada saat Resepsi Hari Jadi Kab. Pekalongan ke-395, pada 30 Agustus mendatang.
Berikut para pemenang untuk kategori SD, Juara 1 – SDN 1 Pekuncen Kec. Wiradesa, Juara 2 dan 3 – SDN 1 Sidosari Kesesi, serta juara favorit SDN Wiroditan Kec. Bojong. Sedangkan untuk kategori SMP, Juara 1 dan Juara favorit – SMPN 1 Wonopringgo, Juara 2 – SMPN 1 Kedungwuni, Juara 3 – SMPN 1 Kajen. Untuk kategori SMA/SMK, Juara 1 dan 3 diraih oleh SMK Al-Fusha Kedungwuni, Juara 2 dan favorit diraih oleh SMAN 1 Kedungwuni, serta Juara 1 kategori umum diraih oleh Muhammad Subhan Bachtiar. ( BPR )
Asal mula nama Pekalongan berasal dari Topo Ngalongnya Joko Bau /Jaka Bau putra dari Kyai Cempaluk pahlawan Mataram dari Kesesi. Suatu hari, Joko Bau diperintahkan oleh Ki Cempaluk untuk mengabdi pada Sultan Agung raja Mataram. Dia juga mendapat tugas untuk memboyong putri Ratnasari Kalisasak Batang ke istana, tetapi Joko Bau malah jatuh cinta pada sang putri.
Karena tindakannya mencintai putri Ratnasari, ia diberi hukuman untuk mengamankan daerah pesisir yang dibajak oleh Cina. Kemudian Joko Bau bersemedi di hutan Gambiran, setelah lama ia bersemedi akhirnya namanya berganti manjadi Bau Rekso. Atas perintah Sultan Agung, Bau Rekso mempersiapkan pasukan untuk menggempur para kompeni yang berada di Batavia (1628-1629).
Namun, serangan itu mengalamai kegagalan, kemudian ia kembali ke hutan Gambiran untuk bertapa "ngalong" artinya bergelantungan seperti kelelawar. Saat topo ngalong Joko Bau/Bau Rekso berlangsung, ia pernah sekali diganggu oleh Tan Kwie Djan atas perintah dari Mataram untuk menerima tugas. Dari nama asal topo ngalong inilah kemudian menjadi nama Pekalongan. Hingga pada akhirnya, karena memperoleh kekuatan gaib, Dewi Lanjar mau dipersunting oleh di Bau Rekso.
Sedangkan munculnya nama Pekalongan menurut versi abad XVII adalah di masa Sultan Agung saat Ki Bau Rekso gugur saat melawan pada tanggal 21 September 1628 melawan VOC di Batavia. Tempat topo ngalong dari Joko Bau berada di Wiradesa, Kesesi, Slamaran, Ulujami, Comal dan Alun-alun Pekalongan.
Ada banyak versi tentang asal usul nama Pekalongan, mulai dari Kerajaan Kalingga, Kalang, Legok Kalong (kelelawar) dan sebagainya yang menurut masyarakat sekitar dibenarkan. Namun, terlepas dari hal itu, Pekalongan sudah menjadi Kabupaten yang mempu mengharumkan namanya. Kabupaten kecil di Jawa Tengah ini terkenal dengan Batik Pekalongan yang menjadi ciri khas dari Indonesia.
Masyarakat Jawa umumnya mengenal dua kali lebaran, pertama adalah Idul Fitri 1 Syawal dan kedua adalah lebaran ketupat pada 8 Syawal, setelah puasa sunah enam hari Syawal.
Dito Alif Pratama dalam artikelnya
“Lebaran Ketupat dan Tradisi Masyarakat Jawa” mengungkapkan lebaran
ketupat pertama kali dikenalkan Sunan Kalijaga.
Saat itu Sunan Kalijaga menggunakan dua istilah, Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran adalah perayaan Idul Fitri yang diisi dengan shalat Id dan silaturahim.
Sementara Bakda Kupat dilakukan
tujuh hari setelahnya. Masyarakat kembali membuat ketupat untuk
diantarkan kepada sanak kerabat sebagai tanda keberasamaan.
Tradisi ini juga tetap lestari di komunitas Muslim Jawa di berbagai daerah seperti Muslim di Kampung Jawa Todano di Minahasa.
Tradisi mengantarkan makanan ini juga teradapat di Motoboi Besar, Sulawesi Utara dan di Bali. Muslim Bali atau Nyama Selam (saudara yang bergama Islam) melakukan tradisi ngejot yakni mengantarkan makanan ke tetangga menjelang Idul Fitri.
Mengutip “Malay Annal of Semarang and
Chrebon' oleh H.J de Graaf,” - Listya Ayu Saraswati dan P. Ayu Indah
Wardhani dalam makalah mereka “Perjalanan Multikultural Dalam Sepiring
Ketupat Cap Go Meh” menulis ketupat sudah dikenal masyarakat Jawa pada
abad ke-15 seiring penyebaran Islam yang dilakukan Wali Songo (sembilan
wali) di Pulau Jawa.
Lebaran ketupat yang dirayakan pada 8
Syawal ini merupakan bentuk menyisipan nilai Islam dalam budaya lokal.
Misalnya pada Perang Topat (perang ketupat) di masyarakat Islam Suku
Sasak.
Perang Topat sebenarnya bertepatan
dengan upacaya pujawali umat Hindu yang diperingati pada bulan keenam
Kalender Bali. Bagi masyarakat Islam Sasak, Perang Topat merupakan
peringatan masuknya Islam di sana. ( Sumber : Republika )
Melihat laga tandang Indonesia VS Vietnam pada Rabu 7 Desember, memang membuat hati berdebar seperti kalau nembak cewek terus nunggu jawaban. Tim Garuda yang sebelumnya unggul saat laga kandang di stadion Manahan Solo, harus menjalani laga Tandang ke Vietnam. Dan laga Tandang tersebut merupakan iya atau tidak maju ke babak final. Meski cuman nonton di layar kaca tapi tak urung ikut terpancing emosi, apalagi ketika wasit mengambil keputusan yang controversial pada tambahan waktu babak kedua.
Saya tidak akan bicara soal tekhnik permainan kedua kesebelasan, karena memang bukan komentator. Hanya saja ada yang menarik dalam pertarungan tersebut, yaitu kegigihan kesebelasan Vietnam yang patut diacungi jempol. Loyalitas dan Totalitas Vietnam betul-betul tercermin dalam aksi permainannya yang super ngeyel bin ngotot. Terbukti, meski penjaga gawangnya terkena kartu merah namun nyatanya berhasil menyamakan kedudukan hingga akhirnya dilakukan perpanjangan waktu.
Betapa harga diri dan gengsi sebuah bangsa dapat terangkat dengan sepak bola, sehingga membuat Vietnam bertarung habis-habisan dan membuat pemain kita ngos-ngosan, walaupun akhirnya Tim Garuda lolos ke babak final. Salut dan angkat topi buat kesebelasan Vietnam, dan juga salut terhadap Tim Indonesia yang begitu tabah dihajar, diserang bertubi-tubi meski sesekali melakukan serangan balasan. Ah, kita ini memang negeri yang tabah dan ulet, meski jatuh bangun tapi tetap bisa berdiri dan mengibarkan merah putih di negeri orang.
Jika diminta untuk mengungkapkan dalam satu kalimat menyoal pertandingan antara Indonesia Vietnam, maka menurut saya yang paling Tepat adalah “ Vietnam, Kaliaaan luaaar biiasaaa “ sementara untuk Tim garuda “ Indonesia, Bejo Bejo “
Subscribe to:
Comments (Atom)







Recent Comment