Ketika Paduka RT Punya Hajat
Gietbram
January 25, 2015
0
Pada suatu ketika di suatu daerah yang tidak jelas tersiar kabar bahwa pemimpin mereka yang biasa
disebut paduka RT hendak menggelar hajatan. Putra mahkota paduka RT akan melangsungkan pernikahanya dengan seorang putri dari kerajaan kesamaran.
Sebagai seorang pemimpin yang termasyur minimal di wilayahnya sendiri, tentu Paduka RT ingin menggelar hajatan itu semeriah mungkin, pasti akan sangat malu jika pemimpin sebesar Paduka RT dalam menggelar pesta pernikahan putranya hanya biasa-biasa saja, "Gengsi Dong " seperti istilah yang pernah dipopulerkan Grup lawak Warkop DKI. Namun permasalahanya, sang Paduka RT ini dikenal sangat pelit meski sejatinya dia kaya raya, sehingga untuk menggelar pesta pernikahan putra mahkotanyapun ia harus berpikir berulang kali, itung-itungan untung rugi. Namun berkat kecerdasan atau mungkin lebih tepatnya kelicikan yang dimilikinya,muncullah ide yang sangat brilian, Atas nama kehormatan seorang pemimpin dan demi harkat martabat Paduka RT di hadapan besannya, maka setiap Rumah diminta dengan sukarela untuk bisa berkontribusi dengan minimal angka yang telah ditentukan demi tergelarnya hajatan yang spektakuler putra mahkota.
Singkat cerita, Paduka RT pun mengutus staf-staf kepercayaannya untuk muter dari satu rumah ke rumah yang lain dalam rangka pengumpulan dana untuk hajatan putra mahkota. Rela tidak rela, suka tidak suka, mau tidak mau akhirnya setiap rumah tangga memberikan iurannya, daripada menjadi bulan-bulan pembullyan, dan terancam posisi jabatanya. Tidak cukup hanya menarik iuran dari bawahanya, sang Padukapun juga meminta berbagai fasilitas diskon sebesar mungkin atau syukur-syukur gratis total dari para pelaku usaha yang ada di wilayahnya, dari mulai kateringnya hingga hotel tempat dimana akan digelar pesta spektakuler sang putra mahkota.
disebut paduka RT hendak menggelar hajatan. Putra mahkota paduka RT akan melangsungkan pernikahanya dengan seorang putri dari kerajaan kesamaran.
Sebagai seorang pemimpin yang termasyur minimal di wilayahnya sendiri, tentu Paduka RT ingin menggelar hajatan itu semeriah mungkin, pasti akan sangat malu jika pemimpin sebesar Paduka RT dalam menggelar pesta pernikahan putranya hanya biasa-biasa saja, "Gengsi Dong " seperti istilah yang pernah dipopulerkan Grup lawak Warkop DKI. Namun permasalahanya, sang Paduka RT ini dikenal sangat pelit meski sejatinya dia kaya raya, sehingga untuk menggelar pesta pernikahan putra mahkotanyapun ia harus berpikir berulang kali, itung-itungan untung rugi. Namun berkat kecerdasan atau mungkin lebih tepatnya kelicikan yang dimilikinya,muncullah ide yang sangat brilian, Atas nama kehormatan seorang pemimpin dan demi harkat martabat Paduka RT di hadapan besannya, maka setiap Rumah diminta dengan sukarela untuk bisa berkontribusi dengan minimal angka yang telah ditentukan demi tergelarnya hajatan yang spektakuler putra mahkota.
Singkat cerita, Paduka RT pun mengutus staf-staf kepercayaannya untuk muter dari satu rumah ke rumah yang lain dalam rangka pengumpulan dana untuk hajatan putra mahkota. Rela tidak rela, suka tidak suka, mau tidak mau akhirnya setiap rumah tangga memberikan iurannya, daripada menjadi bulan-bulan pembullyan, dan terancam posisi jabatanya. Tidak cukup hanya menarik iuran dari bawahanya, sang Padukapun juga meminta berbagai fasilitas diskon sebesar mungkin atau syukur-syukur gratis total dari para pelaku usaha yang ada di wilayahnya, dari mulai kateringnya hingga hotel tempat dimana akan digelar pesta spektakuler sang putra mahkota.

No comments