Siapa Yang Lebih Bermartabat ?
Gietbram
March 31, 2015
0
Kehidupan memang tak pernah bisa
lepas dengan yang namanya intrik, bukan hanya di dunia politik saja namun
hampir disetiap sendi kehidupan manusia intrik selalu ada. Entah itu
dilingkungan tempat tinggal, lingkup kerja, dijalan, dan yang pasti dalam dunia
perpolitikan. Hanya saja kadar intriknya berbeda namun sejatinya memiliki
benang merah yang sama, nama, kekuasaan, dan uang, saya pikir tiga hal itulah
yang melahirkan intrik dalam sendi kehidupan.
Dulu saya berpikir bahwa intrik
itu hanya seputar dunia perpolitikan, namun ternyata dimana disitu terdapat
interaksi sosial maka bisa dipastikan akan muncul intrik – intrik. Di lingkup
tempat tinggal kita saja coba lihat, meski mungkin antar tetangga terkesan
harmonis guyub rukun tapi bisa dipastikan satu sama lainnya sejujurnya tidak
klop. Sehingga kemudian saling ngrumpi, ngrasani, dan yang lebih parah
melakukan aksi pengucilan, lalu dijalan raya saat anda berkendara betapa antar
pengguna jalan saling adu intrik untuk mendapatkan kenyamanan dan “kemenangan”
dalam menggunakan jalan, pada akhirnya saling selib, main potong jalan, ngebut
seenaknya sendiri dan lainya. Lalu dilingkup kerja, sejatinya intrik dan friksinya
tidak kalah dengan dunia perpolitikan. Saling jegal, ada yang menjilat, dan
masih banyak lagi yang toh pada akhirnya semua hanya karena ego dan
kecenderungan individualis yang makin parah. Pada kesimpulannya lahirnya intrik
itu hanya karena ingin mencapai sesuatu, entah itu kekuasaan, jabatan, pujian
dan uang, dan semua itu karena dalam diri manusia ditanamkan nafsu yang tak
terhingga.
Coba bayangkan, seandainya Tuhan
menanamkan nafsu yang ada pada diri manusia sepertinya halnya DIA menanamkan
nafsu pada hewan, mungkin intrik tak pernah terjadi dalam kehidupan. Sebagai
contoh seekor kucing, paling banter nafsu yang tak terbatasi hanya sebatas
birahi dan makan selebihnya si kucing tak lagi punya keinginan lain, sementara
kita apapun tak pernah merasa terpuaskan. Padahal makin haus manusia akan
segala nafsunya, maka makin terbentang jurang yang akan memerosokan kita pada
ketidak martabatan. Saya jadi berpikir, jika demikian apakah sejatinya kita
jauh tidak bermartabat dari seekor hewan ?, satu – satunya yang meninggikan
derajat manusia adalah akal. Ada yang bilang salah, tidak hanya akal pikiran yang
membuat manusia lebih bermartabat dari hewan tapi juga karena kita diberikan
hati dan perasaan. Menurut saya pendapat itu tidak sepenuhnya benar, sebab
hewan juga punya hati, punya naluri yang mungkin jauh lebih berperasaan dari
kita.
No comments