Not Just The Book
Gietbram
December 16, 2014
0
Deretan buku tertata di rak kayu yang sepertinya tak pernah
usang, pliturnya selalu mulus atau malah bisa dikatakan kinclong. Diantara
deretan buku itu ada salah satu buku yang sedikit tidak sejajar dari buku
lainya. Tak selang lama buku itu telah berpindah ke meja, seorang bocah dengan seragam putih
merah telah memindahkannya. Bocah itu menyeka keringat dikeningnya dan kemudian
mulai khusyuk dengan buku dihadapanya. Tak sampai satu jam bocah itu tenggelam
dalam bacaanya, ia pun berdiri dan mengembalikan buku tersebut ke tempat awal
ia mengambilnya, dan diletakan buku itu sekenanya.
Esoknya hal yang sama kembali dilakukan, bocah yang sama,
buku yang sama, dan aktifitas yang sama. Dan ternyata belakangan diketahui
bahwa bocah tersebut hampir setiap hari melakukan hal serupa sudah sekitar
sebulan lebih, datang ke taman baca, duduk dan membaca buku yang sama, karena
dari ratusan buku yang ada di taman baca tersebut hanya buku itulah yang
menarik minat hatinya. Entah sudah berapa kali ia khatam dengan buku itu, namun
tetap saja ia mengulang dan mengulang sampai mungkin hafal dimana letak titik
komanya.
Sementara itu disisi lain santer kabar yang menyebutkan
tentang rendahnya minat baca di Indonesia, hal itu didasarkan laporan studi
Programme for International Student Assessment (PISA) 2012 peringkat pendidikan
Indonesia, terutama di bidang matematika, sains, dan membaca berada pada urutan
ke-64 dari 65 negara. Namun jika melihat sepenggal potret bocah disalah satu
taman baca tadi, lalu apakah masih bisa dikatakan minat baca anak – anak
Indonesia rendah ?
Asumsi akan rendahnya minat baca di Indonesia sebetulnya tidak
sepenuhnya benar, karena hanya dilandasi praduga yang salah dan tidak didukung
dengan data-data faktual di lapangan. Menurut fakta dari Unicef, sebuah negara
dianggap memiliki tingkat membaca yang bagus apabila satu buah buku dibaca oleh
5 orang. Kenyataannya, melihat jumlah penerbit dan toko buku di seantero
Indonesia, satu buku bisa dibaca hingga 7 orang. Hal itu di ungkapkan oleh Windy
Ariestanty, Pemimpin Redaksi Gagas Media yang juga penulis buku saat Diskusi
“Catatan Perjuangan Para Penggerak Budaya Baca” di Bale Santika Unpad Kampus
Jatinangor pada bulan april 2014.
Menurut Windy ada kekeliruan yang muncul dari asumsi di atas.
Yaitu konteks minat baca selalu dipersempit untuk membaca buku. Padahal, minat
baca sejatinya tidak hanya dilihat dari seberapa sering seseorang membaca buku.
Terlebih Sekarang di era kemajuan teknologi, membaca bisa menggunakan berbagai
media, seperti misalnya internet. Tinggi rendahnya minat baca tidak dapat
diukur dari aspek penjualan buku. Buku yang kurang laku di pasaran, bukan
berarti masyarakat tidak gemar membaca. Harus disadari atau mungkin dimaklumi,
bahwa rata – rata orang Indonesia masih harus berpikir berulang kali untuk
menyisihkan sekian persen pendapatannya untuk belanja buku. Harus dimaklumi
karena secara ekonomi rata-rata masyarakat kita masih belum bisa dikatakan mapan
sehingga buku bukan menjadi kebutuhan primer namun kebutuhan sekunder dengan
nomer urutan terakhir.
Jika tinggi rendahnya minat baca didasarkan pada berapa
banyak jumlah buku yang terbeli, atau berapa banyak buku yang di baca, maka
Indonesia ada pada posisi kedua yang terendah dari 65 negara, namun jika asumsi
membaca adalah “ Not just the book “ bisa jadi peringkat minat baca kita tidak
akan buruk-buruk amat.
No comments